Harapan Kepulangan Yang Berganti
Pesisir Selatan--Dua orang nelayan yang berasal dari Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) meninggalkan kisah pilu tanpa kabar.
Dimana, dua nelayan anak bersama sang ayah, bernama SALIM KUMAR (19) dan NUR AHMAD (52) warga Kampung Lansano, Kecamatan Sutera, tidak kunjung pulang dan tiada kabar sejak pergi melaut pada Jumat pagi (1/5/2020) sekitar pukul 04.00 WIB.
Diketahui, sang ayah dan anak seban hari pergi melaut untuk mencari ikan dilaut lepas. Mereka biasanya, mulai berangkat subuh pagi sekitar pukul 04.00 WIB, disaat-saat sang mahkluk sejenisnya sedang terlelap dalam tidurnya.
Dingin sang embun dan percikkan air laut, dianggap sebagai ganti tetesan keringat bagi pekerja keras ditanah tepian.
Mendorong perahu ketengah lautan, dan menantang sang gelombang yang tinggi adalah langkah awal yang harus ditempuh sang ayah dan anak seban harinya.
Setelah, lepas dari hempasan gelombang, barulah, ia meninggalkan tanah tepian, menggunakan perahu kecil dan sekumpulan jaring penangkap ikan mereka.
Setiba dilaut lepas, dengan parahu kecil yang terus bergoyang, sang ayah dan anak mulai membentangkan jaring penangkap ikan mereka.
Saat membentang jaring, mereka berharap ribuan ikan masuk dalam perangkap ikan yang terbuat dari benang nilon berukuran menengah milik mereka.
Dari kejauhan memandang tanah tepian, bentangan jaring belum tentu bisa menangkap ribuan ikan yang berenang lepas dilautan luas.
Tetapi, dalam keadaan itu, mereka berharap kembali ketanah tepian membawa sekumpulan ikan yang ditangkapnya, menjadi modal untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga, terutama kebutuhan makannya.
Kepulangan dan kedatangan dari keberangkatan sang anak dan ayah melaut pada pagi itu, telah ditunggu-tunggu oleh keluarga.
Tapi, kedatangan itu, tidak kunjung tiba ditanah tepian, biasanya dari keberangkat, mereka harus kembali siang hari ke kerumah paling lambat sekitar pukul 11.00 WIB.
Ketika menunggu kabar kepulangan dengan hasil tangkap ikan sang ayah dan anak, badai mulai datang begitu kencang, debuh embok semakin meraung ditepi pantai.
Saat dipandang ketengah lautan, serpihan putih memenuhi lautan lepas terlihat mencemasakan, serpihan putih itu bukanlah salju.
Tetapi, pecahan gelombang besar yang dibawah angin kencang, bersama angin kencang pandangan mulai kelabu, hujan deras mulai turun.
Hati risau, mulai menerpa sang keluarga dengan harapan kepulangan sang pahlawannya. Yang biasa membawa seutas tali berisi ikan, dan helai rupiah dari hasil penjualan ikan yang mereka dapatkan.
Waktu terus berjalan, detik dan menit jam terus berputar menjelang sore. Namun, kabar kepulangan dengan harapan membawa ikan dan helaian rupiah tidak jua terdengar, sampai hari kembali siang dan malam pada Sabtu (2/5/2020).
Risau kian bertambah, harapan mulai berubah dari sesuap nasi menjadi, harapan kapan mereka mulai kembali.
Kabar kepulangan kian ditunggu dan menyayat hati, dimana tepat pada pukul 18.00 WIB, sang ayah dan anak ditetapkan sebagai terlapor hilang diterpa badai kencang.
Sang keluarga diwakili oleh kakak bernama Jepri kini hanya bisa pasrah dan berharap kepada sang tuhan, kembali pulang bukan sebuah nama yang mulai berganti dengan kata berkalang tanah.
Akan tetapi, pulang nama dengan sebuah senyum diraut wajah sang ayah dan adinya, sembari mengucapkan kata Alhamdulillah, kami selamat dari marabahaya.
Sang kabar sampai kini baru berkata, keberadaan mereka berdua masih belum diketahui, apakah masih teromban ambing dilautan lepas denga gemuruh hujan dan gelombang besar. Entah, terdampar disebuah pulau-pulau yang ada disekitar lautan.
Proses pencarian sang adik dan ayah yang hilang kontak ditengah lautan lepas masih berlangsung, yang dilakukan oleh tim pencarian Basarnas Padang dan BPBD Pessel.
Namun, proses pencarian itu, hingga kini masih saja belum membuahkan hasil. Karena, proses pencarian masih terkendala dengan cuaca yang cukup ekstrim.
Mari kita berdoa bersama-sama, untuk kepulangan sang ayah dan anak yang sampai kini entah bagaimana keadaanya.
Sumber, Informasi yang berupaya dihimpun dilapangan oleh penulis (Indra Yen).

Komentar
Posting Komentar